Kuliner Duren Sawit (1) : Duet Maut Bebek Goreng H. Slamet dan Milk Me (Cafe)

[Culinary Review] Haloo gaes 😀 Apa kabar? Alhamdulillah aku muncul lagi setelah hibernasi dari dunia maya ini. Di pos-pos ku kedepan, Insyaalloh aku akan memberikan review kuliner-kuliner di Duren Sawit. Yaa berhubung aku arek Duren Sawit asli, kurang afdol rasanya kalo aku gak memberikan kalian review kuliner di tanah kelahiran #ahsik.

Selain lurah Duren Sawit yang ganteng dan JOMBLO, Duren Sawit juga memiliki beberapa tempat kulineran yang asik, enak, dan patut untuk dicoba.

Oke kalo tiba-tiba kalian jadi galau karena aku bilang lurah Duren Sawit itu ganteng dan JOMBLO, memang lurah itu ganteng dan JOMBLO. Beliau lulusan ekonomi Unpad dan sudah selesai S2. Umur beliau 34 tahun. Kemarin ibuku ketemu beliau saat acara halal bi-halal ibu-ibu PKK Kelurahan Duren Sawit. Kata ibuku, ibu-ibu PKK langsung semangat gitu dan misuh-misuh mau jodohin anak gadis mereka dengan pak Lurah. Ibuku si cuma diem aja karena tau anaknya lebih suka brondong daripada yang lebih tua (kecuali si mas yak) #cariaman :p. Sini sini main ke Duren Sawit untuk yang jomblo. Selain kenyang, siapa tau bisa dapet jodoh

Semisal kalian terdampar kesini atau sengaja mau main ke Duren Sawit untuk ketemu pak Lurah, bisa banget nih kepo-kepo posku tentang Kuliner Duren Sawit. Yuk dicek 🙂

Duren Sawit adalah salah satu kelurahan dan kecamatan di Jakarta Timur. Kecamatan Duren Sawit terdiri dari 10 kelurahan, dimana salah satu kelurahan namanya Duren Sawit juga. Kebetulan aku tinggal di kelurahan dan kecamatan Duren Sawit. Untuk masalah perbatasan, letak geografis, berapa income perkapita, jumlah RW, dan jumlah kelurahan, kalian kepo sendiri aja ya di Gugel kalo gak ada kerjaan ^^v.

 

Separuh Indah Hardiyanti itu Duren Sawit

Agak geli dan bikin mau muntah si baca quotes di atas but honestly, deep in my heart, i do love Duren Sawit so much. Untukku, Duren Sawit adalah kecamatan dan kelurahan yang indah.

Aku tidak cinta Jakarta, aku hanya cinta Duren Sawit (gak lulus buat diagram venn waktu SMP)

Sejak beberapa bulan  yang lalu, aku kepikiran untuk membuat gambaran sederhana tentang kecamatan ini  Tapi aku putuskan aku mau fokus sama kuliner disini dulu baru beranjak ke hal lain-lain. Kan dari makanan bisa turun ke hati #ngasal.  Untuk memulai, aku akan memberikan pembahasan tentang duet maut franchise yang sebagian besar masyarakat pulau Jawa udah coba yaitu Bebek Goreng H.Slamet dan Milk Me.

Bebek Goreng H. Slamet

Gara-gara blog bakcpackstories.me, setiap liat restoran bebek H. Slamet aku jadi ngakak geli gitu. Nama Bebek Goreng H. Slamet itu bisa berarti Bebek menggoreng H. Slamet. Sadis sih haha. Apa ya gaes judul seharusnya? Bebek H. Slamet aja deh kayanya atau Bebek H. Slamet yang Digoreng? Wkwkwk mas ariev sukses buat aku mikir.

Mau judulnya seperti apa, bebek H. Slamet itu wuenaaaak. Bebek paling enaak. Oke aku belum coba bebek tepi sawah yang harga seporsinya mencapai 105 ribu rupiah, tapi bebek yang harganya hanya 1/4 bebek Tepi Sawah ini, adalah bebek paling enak yang pernah aku coba menurutku. Porsinya, parameter organoleptiknya, dan yang terpenting sambelnya itu enaak semua. Aku rasa kalian semua pasti sudah pernah coba bebek H. Slamet ini ya. Happy banget H.Slamet mutusin untuk open cabang di Duren Sawit. Yeay 😀

What We Ordered

Camera360_2013_9_2_115212 (Custom)

Aku ngambil gambar dari hape lama. Maapkeun alaynya gak naggung-naggung

WP_20150115_002 (Custom)

Bebek Slamet menyediakan ayam dan bebek sebagai menu utama. Tentu yang menjadi primadona adalah bebek dan sambelnya.

Bebek H. Slamet itu empuk dan gak amis. Biarpun dia dioreng, aku tetep bisa merasakan bumbu bebeknya dan  dia gak amis. Well spiced lah ya istilahnya. Bebek ini juga effortlessly untuk dicabik gigi taring kita dan digilas gigi graham *pamer udah lulus SD ceritanya*. Empuk banget. Belum diapa-apain daging bebeknya udah pisah. Gak suka berjuang bebeknya #lah. Beside that, sambel bebek Slamet itu enak. Enaak. Pedes tapi gak cuma pedes, ada rasanya! Nama sambel ini adalah sambel korek which i always miss!

Bebek H. Slamet itu enak karena bebek goreng yang disajikan disini itu empuk, gak hambaaar, gak amis, dan memiliki sambel rasa pacar, ngangenin.

Sesuai nama, Bebek H. Slamet itu digoreng dan dijual dalam 3 kondisi yaitu utuh, per bagian seperti dada atau paha, dan per paket.

Kondisiku dalam menyantap bebek H. Slamet juga dikondisikan dengan waktu. Bila awal bulan, aku bisa menyantap bebek per bagian which is bigger than packaged duck.  Saat aku ngidam makan bebek di pertengahan bulan, aku hanya mampu menyantap bebek dalam paket yang harganya lebih murah dan porsinya lebih sedikit #mahasiswa. Aku gak bisa ngebayangin kalo bebek tepi sawah buat franchise kaya bebek H. Slamet. Setaun sekali doang kali ya aku bisa makan disana wkwkwk.

Tidak lebay rasanya kalo aku bilang bebek Slamet adalah franchise bebek terenak karena rasa dan pelayanan yang konsisten di tiap cabang. Sudah beberapa kali aku makan bebek H. Slamet di daerah yang berbeda dan i still get the same taste and service. Aku dan si mas pernah berpendapat bahwa salah satu franchise yang gak akan bangkrut di Indonesia adalah Bebek H. Slamet.

Untuk minuman, minuman yang dijual minuman standar seperti es teh manis, es jeruk, teh kemasan, jus, es kelapa dan air minum kemasan. Tidak banyak variasi yang tersedia. Bahkan di beberapa cabang H. Slamet, minuman yang tersedia terkadang hanya teh manis dan es jeruk.

Milk Me (Cafe)

Tidak puas dengan bisnis bebek, H. Slamet atau penerus H. Slamet merambah bisnis kuliner jenis lain yaitu per-kafe-an. Milk me atau milk cafe adalah kafe pertama buah kesuksesan Bebek H. Slamet alias anak usaha pertama dari bebek H. Slamet. Kafe ini menunjukkan ambisi H. Slamet atau penerus H. Slamet untuk mengepakkan sayap di industri kuliner Indonesia *bahasanya gak kuat qaqa*.

Untuk nama, sejujurnya aku bingung dengan nama kafe ini antara Milk Me atau Milk Cafe. Dulu, nama kafe ini Milk Me. Namun, beberapa hari yang lalu aku lihat papan nama kafe ini diubah menjadi Milk Cafe. Mungkin karena nama Milk Me yang ‘kontroversial’ sehingga namanya diubah menjadi Milk Cafe. Lebih netral dan gak ngebuat pikiran kemana-mana kali ya.

Menu utama yang disajikan di kafe ini adalah berbagai jenis susu . Berbeda dengan bebek H. Slamet, kafe ini lebih membidik anak muda sebagai pelanggan. Terlihat dari menu yang disajikan dan dekorasi ruangan. Lucunya dari kafe ini, kafe ini selalu mengekor bebek H. Slamet dan menyudahi kejombloan bebek H. Slamet. Dimana ada bebek H. Slamet maka akan ada Milk me. Termasuk yang ada di Duren Sawit ini. Milk Me tepat berada di samping Bebek H. Slamet. Feelingku sih ini stategi marketing dengan memanfaatkan ketenaran bebek H. Slamet.

Mari kita lihat ‘anak pertama’ bebek H. Slamet ini.

Interior

IMG_20160518_200204 (Custom)IMG_20160518_200210 (Custom)

Milk me menggunakan sapi dalam bentuk kartun sebagai logo restoran. Milk me ingin merepresentasikan apa yang mereka jual dengan logo lucu ini. Move to color preference, warna yang mendominasi Milk Cafe adalah warna merah dengan desain yang kekinian. Maaf-maaf aja nih gaes gambar yang ada tidak merepresentasikan dekorasi keseluruhan Milk Me. Intinya desainnya didominasi warna merah dan bergaya kekinian. Khas anak muda jaman sekarang.

Desain ini kontras dengan desain bebek H. Slamet. Bebek H. Slamet menggunakan logo bebek berjalan sebagai lambang restoran. Tidak ada ilustrasi yang menyertakan alias pure gambar bebek.Amat sangat straight to the point.

Pilihan warna bebek H. Slamet juga tidak sebaik warna Milk Me, yaitu didominasi warna hijau tua dan hitam. Mirip seperti warna salah satu partai terbesar di Indonesia. Bebek H. Slamet memang lebih ditunjukkan untuk restoran keluarga yang gak memperdulikan desain suatu restoran . Tipikal tempat makan yang sudah makan ya pulang. Gak ada ritual foto-foto untuk diunggah di Instagram alias jauh dari kata instagram-able. Berbeda dengan Milk Me yang masih Instagram-able.

What We Ordered

IMG_20160518_200956 (Custom)

Malam hari, kamera hape, skill memoto buruk, maka seperti ini hasilnya ^^v

Sewaktu kesini aku memesan Blueberry milkshake dan es teh manis untuk minuman sedangkan untuk makanan aku memesan beef cordon blue dan burger steak.

IMG_20160518_201106 (Custom)

Seperti yang aku bilang, menu utama di Milk Me adalah aneka jenis susu. Ada juga sejenis sop buah dan aneka jenis teh but most of them are hot and cold milk. Susu dingin yang aku icip waktu itu adalah susu rasa blueberry.

Untuk aku yang milk haters, susu ini menurutku enak. Rasanya segar dan gak membuat aku enek. Im really fine with the milk. Mungkin sirup blueberry yang ditambahkan berfungsi dengan baik di susu ini dan menetralisir kekurangan susu untukku.

Susu di Milk Me cocok banget untuk kalian yang bosan dengan susu kemasan rasa-rasa standar (coklat, strawberry, vanila, etc) dan ingin icip susu rasa buah lain semisal leci, blueberry, dan lain-lain tanpa harus ke Momo Milk Bogor hahahaha. Dengan harga 15 ribu, aku rasa minuman ini cocok kalian jadikan pilihan kalo mau makan di luar tanpa membuat kantong tercekik.

IMG_20160518_201038 (Custom)

Untuk makanan, aku memesan burger steak. Burger steak itu daging burger yang digrilled, disajikan dengan telur ceplok dan kentang and for finishing touch, disiram dengan saos barbeque mungkin ya. Persis seperti gambar di atas.

In my opinion ya, aku gak suka dengan rasanya. It is a bit weird karena aku makan daging burger tanpa roti and instead malah makan daging ini dengan telur ceplok. Aku bener-bener asing banget. Selain itu, rasa burgernya juga asin dan saosnya encer alias kurang berasa. Aku gak rekomendasiin ini untuk kalian. Lebih baik kalian pilih ayam krispy atau chicken karage. Terserah sih kalo kalian fine makan burger tanpa roti dan cuma ‘dalemannya’ aja. But for me, it is a big no. I wont try it anymore.

IMG_20160518_201153 (Custom)

Menu yang dipesan si mas waktu itu adalah chicken cordon blue. Aku gak bisa kasih penilaian karena aku gak icip ini tapi according to si mas, rasa cordon bluenya lumayan alias edible. Si mas bilang lebih baik dari burger steak yang aku pesen. Mungkin bisa lah kalian jadikan pilihan kalo kalian ingin makan disini.

Dari review, dapat aku simpulkan bahwa kedua restoran ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bebek H. Slamet unggul di makanan dengan minuman yang standar banget while Milk Me unggul di minuman dengan makanan yang ‘biasa aja’ menurutku.

Dengan adanya duet ini, aku rasa akan memberikan keuntungan dan menutupi kekurangan untuk masing-masing restoran. Hal ini akan memberikan sensasi duet maut #apasihndah.

Menurutku, cara terbaik merasakan duet maut bebek H. Slamet dan Milk Me adalah dengan makan di bebek goreng H. Slamet while minumannya adalah susu dingin dari Milk Me.

Emang boleh ndah bawa minuman dari luar?

Boleh kok bawa minuman dari Milk Me. Masih satu grup ini. Insyaalloh boleh deh.

Location

Letak Bebek Goreng H. Slamet dan Milk Me itu sebelahan dan terletak di Jl. Buaran Raya, RT.1/RW.15, Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Jam Operasional dan Daftar Harga

Jam Operasional :

Milk Me :
Setiap Hari (Kecuali Hari Jumat) : 10.00-22.00 WIB
Jumat : 13.00-22.00 WIB

Bebek Goreng H. Slamet :
Setiap Hari (Kecuali Hari Jumat) : 11.00-22.00 WIB
Jumat : 13.00-22.00 WIB

Daftar Harga : 

Bebek H. Slamet : https://www.zomato.com/jakarta/bebek-goreng-h-slamet-klender/menu
Milk Me : https://www.zomato.com/jakarta/milk-me-klender/menu

So ini dia liputan duet maut Bebek Goreng H. Slamet dengan Milk Me. Insyaalloh ya aku liput makanan Duren Sawit yang lain. Tungguin aja oke. Tunggu niatku kekumpul hahaha. Doain juga dong aku bisa beli kamera mirrorless jadi gambarnya gak alay model begini xixixi –”

 

Iklan

9 thoughts on “Kuliner Duren Sawit (1) : Duet Maut Bebek Goreng H. Slamet dan Milk Me (Cafe)

      • Aku nyobain bebek slamet yg di bandung sih, di bekasi ada juga tp lum nyoba. Klo bebek di bekasi bekennya sih bebek bulak kapal, ngantri terus klo kesana.

        Kuliner bekasi kyny mirip2 sm jakarta, soto mie atau nasi bebek disini bnyk bgt yg jual.

        Suka

      • Iya bebek bulak kapal saking ramenya mpe ada org yg bilang klo sambelnya diilerin setan hahaha.. soalnya katanya klo bebeknya dibawa pulang rasanya jd ga enak, enakan makan di tempat. Tapi percaya ga percaya sih, aku sih tetep doyan makan dsana hahaha..

        Nasi uduk aku kurang tau nih krn biasa bikin nasi uduk sendiri di rice cooker hehehe..

        Paling klo jalan2 ke mall metropolitan bekasi coba deh mampir ke Ichiban resto, menunya makanan jepang gitu tp semuanya enaakk!! Ramen, sushi&bentonya enak smua, harga juga termasuk murah cuma 22rb-40ribuan. Daripada Gokana mending Ichiban kemana2.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s