Ramadhan untuk Lebaran

[In My Opinion] Assalammualaikum wr.wb gaes. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H ya. Aku minta maaf kepada kalian bila kata-kata dan pendapatku menyakiti kalian, bila menebarkan wacana tanpa henti kepada kalian, bila menebarkan keresahan juga ketidaknyamanan terhadap kalian (lah emang aku ngapain yak wkwkwk), dan bila dalam setahun kedepan aku kembali berbuat kesalahan. Minta maafnya udah dimuka ya gaes ^^v

Berhubung momennya masih lebaran, aku ingin memberikan sedikit apa ya, refleksiku tentang lebaran kali ini. Tidak ada kaitan dengan bom yang beredar di Solo atau Madinah atau Baghdad, tapi tentang evaluasiku selama akhir lebaran kemarin. Pos ini sedikit serius si gaes, jadi kalo kalian not into serious things, better you’re no reading this post hahaha. Yaa biarpun blogku blog hedon, aku ingin menyusupi  blogku tentang kehidupan sedikit-sedikit. Judul blogku memang Between Sweet and Sour, jadi akan ada sisi manis dan asam dalam blogku. Ahsiikkkk sekaliii. Kepooo yuk :*

Kalian harus mengejar akhirat dulu baru dunia. Jangan kejar dunia dulu baru akhirat

Kata-kata khatib di solat Ied kemarin masih teringat-ingat di kepalaku. Kurang lebih isi ceramahnya seperti itu. Tentang keutamaan mengejar akhirat.

Boleh mengejar dunia karena kita hidup di dunia, tapi jangan pernah kita melupakan akhirat, karena kebahagiaan di akhirat itu kekal.

Believe it or not, i was so sad lho gaes. Ustad itu memberikan ceramah dengan intonasi yang dalam dan suara yang tegas, seolah-olah memberikan jamaah solat Ied kemarin sebuah peringatan keras. Gak semuanya ngeh si tentang isi ceramah si ustad, tapi buatku ceramah si ustad ini seperti tamparan. Lebay yak gaes, but you know sometimes you listen to some words that really slap you. Just like your mom’s words. Seperti kata-kata yang ada di pos tentang ibu ini lho gaes.

Di jaman sekarang dimana godaan dunia itu kenceng banget, terutama godaan dari sac de jour dan kawan-kawannya,  ustad ini mengguyur pikiranku tentang peringatan serius ini. Aku seperti ‘ngeh’ lho kalo memang selama ini aku itu masih terlalu kencang mengejar dunia dan melupakan akhirat. Hayo ngacung siapa yang solat zuhurnya kaya qobliyah asar atau subuhnya kaya duha kepagian?

Agar kalian ingat akhirat, banyak-banyak lah kalian mengingat mati. Bahwa seluruh harta benda kalian di dunia ini akan meninggalkan kalian dan yang tersisa hanyalah amal ibadah kalian

Ustad itu juga mengingatkan aku dan semua jamaah tentang perginya ramadhan. Ustad itu menyoroti bagaimana sebagian masyrakat Indonesia yang sedikit ‘kelewatan’ di akhir ramadhan. Bukan berdiam diri di masjid, ini malah berdiam diri di pusat perbelanjaan. Menyoroti jumlah shaf terawih yang terdegradasi dengan sendirinya, dan yaa ceramah klasik tentang betapa sibuknya masyarakat Indonesia menjelang lebaran. Seperti Ramadhan untuk lebaran.

Intinya, ceramah ustad kemarin memberikan dua kesimpulan yaitu, mengutamakan akhirat baru dunia dan pemanfaatan ramadhan secara optimal, terutama di hari-hari terakhir ramadhan

Di pos ini, aku ingin menyoroti poin kedua ustad yaitu pemanfaatan akhir ramadhan. As we know, lebaran di Indonesia itu sama sakralnya dengan pernikahan tingkat nasional. Di tingkat keluarga misalnya, beragam persiapan dilakukan mulai dari persiapan pakaian, makanan yang akan disajikan, dan kepulangan ke kampung halaman. Hingga tingkat stake holder di Indonesia, sibuk saat lebaran. Menteri pertanian dan perdagangan disibukkan dengan harga-harga bahan pangan yang diluar nalar, terutama harga pete yang menembus angka 20.000/buah hahahahah miris -_-. Menteri perhubungan, Polri, Pertamina, dan Jasa Marga yang tiba-tiba dapet tugas terberat selama masa lebaran, mengurusi mudik dimana tahun ini adalah salah satu mudik terparah yang pernah terjadi di Indonesia. Menteri Keuangan yang akan memikirkan efek lebaran yaitu inflasi berkepanjangan. Semua pihak di Indonesia akan sibuk saat lebaran.

Di Indonesia, lebaran lebih sakral daripada proses ramadhan dan sebagian besar dari kita (termasuk aku), lupa akan keutamaan ramadhan yang luar biasa

Semakin aku tua, semakin aku sadar bahwa godaan terbesar kita saat ramadhan adalah menjadikan ramadhan sebagai tahap persiapan untuk merayakan lebaran, bukan tahap pembelajaran dalam peningkatan keimanan. Aku berfikir bahwa lebaran yag dirayakan di negara ini terlalu berlebihan to the extend God punished us with Brexit (brebes exit yaak) case. Menurutku, kasus brexit adalah teguran untuk Alloh terhadap bangsa ini yang sudah ‘di luar batas’ menurutku saat lebaran. Termasuk diriku.Sebelum aku mengomentari orang lain, aku akan jujur membahas diriku.  Aku tidak menyangkal bahwa hingga akhir ramadhan kemarin, aku lalai dalam memanfaatkan ramadhan dan malah terjebak pada euforia lebaran.

Evaluasi terbesarku adalah, aku belum bisa devote my self to ramadhan, terutama di 10 hari terakhir saat keperluan lebaran semakin mendesak untuk diselesaikan.

Bikin kue, masak, beli baju, dan segala hal duniawi melalaikanku di 10 hari terakhir. Aku tidak menyangkal. Beberapa kali aku melewatkan tarawih di masjid dan beberapa kali bahkan aku tidak tarawih. Bad rite? Mungkin karena tradisi jadi aku masih saja merelakan ramadhan-ku pergi begitu saja and instead, aku malah seenaknya mempersiapkan lebaran. Untung aja saat ceramah idul fitri kemarin ustad yang jadi khatib di daerahku mampu memberikan ceramah yang bisa menamparku. Membuatku merencanakan beberapa perubahan.

Aku tidak menyangkal bahwa aku ingin merayakan lebaran. Tapi aku tidak ingin ramadhanku pergi begitu saja. Aku yakin aku pasti rugi.

Perubahan yang aku rencanakan, insyaalloh bila tahun depan aku masih bisa bertemu dengan ramadhan adalah perubahan yang sifatnya teknis di 10 hari terakhir ramadhan. Aku memikirkan cara-cara praktis agar ramadhanku bukan untuk selebrasi lebaran. Aku juga memikirkan tentang kualitas ibadah yang aku lakukan si gaes. Ini sifatnya pribadi gaes, kalo kalian mau tiru mungkin bisa

1. Buat kue hanya 2 macem, yaitu nastar dan biji ketapang, yang mana fokus di 2 hari aja. Jangan lebih. Bikin kue itu melelahkan, bila dilakukan lebih dari tiga hari, aku jamin kalian tidak optimal memanfaatkan 10 hari terakhir
2. Fokus masak sehari sebelum lebaran. Kalo ingin buat bumbu, lakukan setelah tarawih
3. Beli baju sebelum malam takbiran. Jangan sekali-kali kalian pergi saat malam ramadhan. Kalian pasti rugi. Merelakan tidak terawih sehariii aja itu ruginya -______- Jujur aku ngerasa rugi banget banget tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya bisa sampe gak teraweh beberapa kali 😦
4. Selesaikan urusan belanja-belanja sebelum ramadhan. Beli baju anak, baju mertua, baju orang tua, seprei, hordeng, anything deh. Termasuk biskuit-biskuit untuk lebaran. Biar kalian gak kelelahan saat malam ramadhan dan fokus untuk ibadah. Kalian cicil aja belinya. Jangan nunggu THR aja.
5. Kalo mau mudik, usahakan sebelum cuti bersama. Kalian ambil satu hari cuti khusus di ramadhan untuk mudik. Hal ini untuk mencegah kalian terperangkap di Brexit. Seriously, consider about going home earlier cause trapped in endless traffic like Brexit just waste the chance to optimize your ramadhan. Aku gak tau prosedur cuti, but really. Going home early is the best choice
6. Banyak banyak ingat mati. Karena mati itu pasti dan kita gak tau apakah dapat dipertemukan untuk ramadhan selanjutnya. Dan orang yang merugi adalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Alloh saat ramadhan pergi 😦

Selain itu, lebih baik kalian evaluasi kualitas ibadah kalian juga gaes. Evaluasiku, ibadah yang sulit aku lakukan adalah solat malam, karena aku kebanyakan begadang. Mungkin tahun depan ketika aku sudah jadi istri orang kerja, aku bisa membalikkan waktu tidurku yang kacau balau. Ugh bahkan sekarang aku belum tidur . Aku merasa lack of Tahajjud gaes. Aku ingin deh bisa tahajjud, terutama saat ramadhan. Aku ingin bisa berkomunikasi lebih dengan Alloh. Kalian tau kan kalo kita berjalan menuju Alloh maka Alloh akan lari untuk kita. Yaa mungkin kalian punya prioritas masing-masing tentang ibadah apa yang belum optimal. Kalo bisa di 11 bulan ini, kita maksimalin dulu, agar saat ramadhan tiba, kita sudah terbiasa dan malah bisa leveled up. Aaamiin.

Lebaran di Indonesia Tahun 2016

Aku ingin mengomentari tentang kasus lebaran tahun ini di Indonesia. Menurutku, tidak berlebihan aku mengatakan bahwa Alloh menegur kita di lebaran kali ini. Kasus Brexit adalah teguran dari Alloh. Memang, itu sudah ajal dari Alloh untuk semua korban, tetapi ketika kita mendapat cobaan dari Alloh, maka ada 2 kemungkinan : jika kita beriman, maka cobaan untuk meningkatkan keimanan, ketika kita lalai, maka cobaan untuk menegur kita. Dan yang terjadi di Brexit kemarin menurutku adalah teguran untuk kita.

Aku merasa bangsa ini sudah terlalu lupa memaknai ramadhan dan terlalu fokus pada selebrasi lebaran

Aku merasa bahwa masyarakat di Indonesia sedikit keterlaluan tahun ini. Maaf kalo aku seenaknya beropini, tapi aku ingin kita merenungkan apa yang terjadi pada bangsa ini. Dimulai dari kasus Ibu Saeni. Kita berlomba-lomba membela ibu Saeni hingga memberikan uang 170 juta untuk dia yang pada akhirnya dia kabur ke Tegal. Kita memberikan premis-premis aneh mulai dari “Hormati orang yang tidak berpuasa”, “Ini negara agama, bukan negara salah satu agama” dan “Kalo puasa gak akan kegoda sama warteg”.  Aku muak melihat premis-premis ini beredar di halaman facebook-ku dan aku langsung tertawa sinis ketika tau ibu Saeni menipu para donatur dengan kabooor ke Tegal. Aku menyadari bahwa banyak banget orang di Indonesia yang islam, tapi alergi sama islam. Islam, tapi gak suka sama syariat islam. Islam, tapi suka banget kalo islam di offense. Media-media di Indonesia juga tingkat anti islamnya tinggi. Hahahah biasanya aku liat anti kristus di film horor, kalo liat anti islam di media sosial.

Lalu, aku melihat banyak banget supir angkot dan tukang parkir gak puasa. Ngerokok dan minum es sesuka hati. Udah kaya orang gak punya adab. Aku udah gak ngerti lagi. Bener-bener gak ngerti. Aku gak masalah kalo mereka gak puasa. Tapi bukan berarti mereka pantes lah pamer diri kalo mereka gak puasa. Dude, are you crazy? Sumpah aku gak paham sama orang-orang kaya gitu. Wajar aja mereka hidup susah. They dont respect their Alloh. Mereka keterlaluan. Berani banget sama Alloh. Berani banget mempermainkan agama Alloh. Tingkat pembangkangan ini menurutku udah akutttt. Wajar kalo Alloh gak memberkahi hidup mereka. Astagfirulloh…

Sepinya Masjid di Indonesia saat menjelang akhir ramadhan dan ramainya mol di Indonesia saat akhir ramadhan adalah hal lain yang menjadi tradisi di Indonesia. Aku mau buat pengakuan dosa bahwa aku satu kali ke mol saat ramadhan. Aku berencana beli sepatu. Then i was surprised with the crowd. Rameeeee banget banget gaes. Mol saat akhir ramadhan itu rame banget. Semua orang berbondong-bondong cari baju dan keperluan sandang lain. Apalagi mol-mol di Indonesia memberikan kata paling berbahaya di dunia yaitu SALE.

Dan kalian pernah liat mesjid saat akhir ramadhan? Kebalikannya. Sepiii banget. Aku menyesal membuang satu hari ku di mol. Aku nyesel banget banget banget. Gilaa gaes. Siapapun kalian yang membaca pos ini, aku ingin mengatakan sesuatu

Siapapun kalian, jangan pernah membuang satu malam kalian di Mol saat Ramadhan. Berikan 30 hari kalian full di mesjid, kecuali kalo kalian lagi haid ya. Sumpaaaah gaes, terawih di mesjid, I’tikaf di mesjid 1000 times better than spending your night at Mall. Jangaaaaan sekali-kali gaes. Kalo mau ke mol, pas sehari sebelum lebaran aja ya dan sebelum puasa sekalian. SAYANGI TARAWIHMU MELEBIHI KEINGINANMU KE MALL.

Aku juga sadar bahwa godaan ke Mall itu gede banget. Apalagi kata sale. Tapi, pernah mikir gak kalo itu hanya dunya. Hanya tipuan dunya. Bukan kebahagiaan hakiki. Aku bener-bener sadar bahwa tipu daya dunia itu hebat banget ya. Aku nyeseeeel baru ngeh sekarang, saat ramadhan udah pergi :(( Aku berharap bisa dipertemukan ramadhan selanjutnya. Benar-benar dipertemukan dan diizinkan untuk mengoptimalkan ibadahku.

Lebaran di Indonesia juga identik dengan melambungnya harga bahan pangan  saat menjelang lebaran. Bayangkan, harga pete satu buah 20 ribu. Harga daging menembus 150 ribu. Harga cabe bawang 40 ribu. Semuanya di-mark up. Semua orang yang terlibat dalam perdagangan bahan pangan me-mark up. Dalam islam, kita tahu bahwa mengambil untung itu boleh, tapi gak semaunya juga. Sedangkan di Indonesia, momen lebaran dijadikan momen pengerukkan keuntungan besar-besaran. No wonder banyak orang yang nekat berbuat kejahatan untuk sekedar bisa membeli kebutuhan saat lebaran. Astagfirulloh….Aku nyebut dan geleng-geleng gaes tau harga pete satunya 20 ribu. Gilaaak apa ini -__- Ckckckckck. Harga ayam kampung 120 ribu. Ya Alloh….Aku udah gak habis pikir. Alloh juga pasti jadi marah melihat kita semaunya aja mengambil untung. Menjerat orang-orang yang gak mampu.

Selanjutnya mudik. Mudik juga menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan saat lebaran untuk bangsa ini. Sebagian besar orang yang ada di Jakarta berasal dari daerah lain yang membuat mereka ingin merayakan momen lebaran sebagai momen berkumpul dengan keluarga. Tentu niat ini baik gaes. Namun, menjadi masalah karena sebagian besar orang yang mudik itu, tidak memanfaatkan akhir ramadhan dan mudik di hari yang bersamaan. Sebagian besar pemudik menghabiskan hari di jalanan. Ada yang berpuasa, ada yang gak puasa karena kelelahan. Sedikit yang mampir untuk tarawih. Sisanya melupakan ibadah-ibadah lain. Apalagi di mudik tahun ini.Aku yakin banyak banget yang ibadahnya terbengkalai karena kemacetan di Brexit. Untuk buang hajat dan solat saja susah, apalagi untuk puasa.  Menurutku, teguran Alloh terjadi di penyelenggaraan mudik tahun ini.

Alloh itu Maha Membolak-balikan hati. Banyak orang hatinya digerakkan Alloh untuk lewat Brexit karena anggepan mereka Brexit lancar. Nyatanya, brexit menjadi malapetaka untuk bangsa ini. Tidak sedikit yang berlebaran di jalan raya karena tidak bisa sampai ke kampung halaman tepat waktu. Tidak sedikit yang ibadahnya berantakan. Bahkan sampai ada korban jiwa. Menurutku, Alloh benar-benar menegur kita, termasuk pemerintah, terhadap ramadhan di Indonesia. Ada baiknya kita mengevaluasi proses mudik juga proses lebaran kita. Jangan sampai mudik membawa mudarat dan murka Alloh. Saranku, mudik ketika sepi. Ambil cuti. Kalo susah, naik pesawat. Jangan sampai kalian berhari-hari di jalanan untuk mudik. Sayaaang gaes sama ibadah kalian.

Terakhir, yang ingin aku komentari adalah kualitas silaturahmi di Indonesia. Menuruku, silaturahmi dan ajang pamer diri di Indonesia itu beda tipis. Saat silaturahmi, banyaaaaaaaaaaaak banget orang yang sudah menyiapkan diri unruk memamerkan apa yang mereka punya baik secara eksplisit maupun implisit. Dimulai dari mengenakan baju yang mewah dan paling bagus, dengan emas-emas yang bertaburan di tangan, sepatu-sepatu bagus, dan menyiapkan materi apa yang akan dibanggakan.

Saat silaturahmi, hal yang dibicarakan kemungkinan besar adalah materi dunia. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan adalah pertanyaan yang sifatnya duniawi. Contohnya nih ya yang untuk usia 20-an :

“Kapan lulus?”
“Udah kerja dimana?”
“Mau nikah kapan?”
“Siapa calonnya? Udah kerja belum calonnya?”

Ngasih pertanyaan gitu sebenernya bukan untuk menyambung silaturahmi, tapi menimbulkan emosi baru. Aku juga sih ditanya pertanyaan kaya gitu dan ga masalah. Tapi bayangin kalo kalian nnaya itu ke orang yang sensitif. Yang memang keempat hal tersebut adalah hal yang belum dia capai. Ada juga bukannya silaturahmi, kalian menyakiti diri. Aku jujur kesel ketika orang ngasih pertanyaan itu ke wanita lain atau orang lain. Ya toleransi lah. Kenapa harus pertanyaan itu. Kenapa gak gini pertanyaannya

“Kemarin saat ramadhan khatam gak baca qurannya?”
“Kemarin solat terawehnya bolong berapa?”
“Kemarin murajaah gak saat ramadhan?”
“Ramadhan tahun ini lebih baik ga dari tahun lalu?”

Menurutku, pertanyaan yang menyangkut ramadhan jauh lebih baik dibanding pertanyaan KAPAN. Pertanyaan tentang evaluasi ramadhan kurasa lebih apa yak, lebih meningkatkan motivasi untuk lebih baik di ramadhan selanjutnya. Kalo keponakanku udah gede, hal yang aku tanya adalah hal begini. Aku merasa gak ada urusan dengan pertanyaan KAPAN untuk mereka. Aku cuma ketemu setahun sekali, apa urusannya aku dengan kehidupan pribadi mereka? Siapa elo ndah? Gitu lho gaes. Jangan bertanya pertanyaan KAPAN keseringan gaes, termasuk ke temen. Gak semua orang bisa menanggapi pertanyaan KAPAN sesantai kita.

Saat silaturahmi juga ajang pembanggan anak. Anak masing-masing udah jadi pride tertinggi. Kalian pernah mengalami beberapa hal ini?

“Si Fulan nih keterima di ITB FTI”
“Si A nih dapet S2 di luar negeri”
“Si B nih keterima di SMA 8”

Kamu iri ya ndah?

Hahahaha sejujurnya, ketika orang tua membanggakan anaknya seperti itu, yang aku pikirkan adalah anak yang lain. Bukan anak si orang tua itu. Ku berfikir bagaimana perasanaan keponakannya yang lain kalo misal mereka cuma bisa di SMA swasta. Bagaimana kalo mereka kuliah di swasta. Apakah orang hanya bisa ditentukan pride-nya dari sekolahan? Hanya itu? Aku jujur ‘pengap’ dengan orang tua yang membanggakan anak-anaknya. Aku bersyukuuuur gaes ibuku gak begituuu. Aku bersyukur dibesarkan dari rahim ibuku. Ibuku gak pernah membanggakan aku dan abang-abangku meskipun kita masuk PTN semua. Aku seneng ibuku gak suka pamer tentang kehidupan kakakku. Ibuku juga gak peduli tentang pertanyaan orang tentang kapan aku lulus.Psst untung aja aku udah lulus lebaran ini hahaha.

Kalo niat kalian memotivasi, berikan saran, jangan pamerkan anak-anak kalian. Kalian tau kan batasnya memotivasi dengan pamer? Kalian hanya ketemu setahun sekali dan yang kalian lakukan adalah pamer. Gosh….give me a break…..

Kalian juga gitu ya gaes. Ingat di Al-Quran tercantum bahwa “…..kalian akan berbangga-bangga terhadap harta dan anak-anak kalian…” Kurang lebih ayatnya seperti itu. Aku harap, kalian tidak membanggakan anak-anak kalian nanti. Kalian boleh bangga, tapi cukup di depan anak kalian. Jangan di depan keluarga yang lain. Semua orang punya bakat masing-masing. Gak semuanya bagus di akademis. Ada baiknya kita menoleransi itu dan tidak membanggakan tentang anak-anak kita. Kecuali kalo ditanya ya. Yaa kalian jawab seadanya aja. Gak usah lebay jawabnya

Aku bersyukur ibuku mengonsumsi kebahagiannya dan kebanggannya untuk dirinya sendiri. Aku berysukur ibuku tau bahwa menghargai dan menoleransi seseorang sangat dibutuhkan di jaman seperti ini. Biasakan begitu ya gaes. Aku sudah bertekad kalo nanti keponakanku udah gede, aku akan bilang sama abang-abangku jangan suka pamer-pamer pendidikan anak, karena tiap anak memiliki potensi yang berbeda.

Hal lain yang sedikit gak aku pahami saat lebaran adalah pertanyaa ini :

“Mana calonnya? Kok ga diajak?”

Pertanyaan paling gak logis di benakku adalah pertanyaan ini. Justru ya gaes, kalo aku punya sodara dan dia bawa PACAR-nya, aku bakal tanya :

“Ini kenapa pacar kamu disini? Dia gak punya keluarga apa?”

Sejujurnya aku gagal paham saat seseorang bawa pacarnya ke keluarganya saat lebaran. Maksudku, dia orang lain gitu -_- Kenapa dia harus ada saat lebaran? Lah dia kan punya keluarga masing-masing. Ngapain gitu harus di rumah orang saat lebaran? Kan dia punya orang tua. Masa orang tuanya ditinggalin pas lebaran? Ya ampuun. Udah sabtu minggu ditinggal masa pas lebaran juga -_- Aku gagal paham sama laki-laki yang ngapel bahkan saat lebaran. Sumpah. Sumpaaah. Aku gemees banget liat laki-laki model begitu. Aku gak bakal izinin laki-laki manapun yang belum jadi suamiku untuk datang saat lebaran. Bukan apa-apa, tapi kalian punya keluarga gitu. Ya mbok pikirin keluarga dulu toh nduk! Dan kalo kalian wanita, jangan paksa pacar kalian untuk datang. Pacar kalian itu punya keluargaaaa. Ya toleransi lah. Ketemu aja 3/4 hari abis lebaran. Just consider their parents first,

Hahahahaaku kuno yak, cuma aku heran dengan tradisi di Indonesia. Kenapa orang tua bangga kalo anaknya bawa pacar gitu. Maksudku, seorang orang tua harusnya bangga ketika anaknya gak punya pacar, karena tandanya anaknya bisa nahan diri. Huh aku rada heran sejujurnya sama orang tua jaman sekarang. Kalo aku punya anak, aku suruh anakku taaruf. Meskipun aku pacaran hehehe ^^v

Ketika silaturahmi, luruskan niat. Jangan ada sedikitpun terbersit niat untuk pamer. Tanggalkan emas kalian. Gunakan pakaian yang biasa aja. Jangan yang kelewat mewah. Selalu, luruskan niat untuk silaturahmi. Satu lagi, jaga perasaan sodara kalian dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyenangkan hati. Jangan menyakiti hati mereka. Dan, jangan bawa pacar saat lebaran -_-

Jadi ini adalah evaluasi dan pengamatanku selama lebaran ini. Ada baiknya kalian juga evaluasi apa yang salah selama selebrasi lebaran kalian dan selama pelaksanaan ibadah kalian. Ramadhan itu bulan penuh keberkahan. Bulan yang harus dimaksimalkan. Sesulit apapun, aku ingin bisa memaksimalkan ibadah ramadhan.

Lebaran itu bisa jadi kebaikan, bisa jadi mudarat. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sebisa mungkin jadikan lebaran sebagai kebaikan dengan pemanfaatan ramadhan yang maksimal, agar kita bisa menjalankan 11 bulan kedepan dengan iman yang lebih baik. Jangan biarkan ramadhan-mu pergi begitu saja ya gaes 🙂

p.s maaf kalo ada yang tersinggung dan aku judgemental, but i really think that there is something wrong with Lebaran in Indonesia that i have to tell you. Ayo kita evaluasi dan perbaiki diri agar kita tidak menyesal saat mati :))

 

 

 

Iklan