Pura Jagatkarta, bukan Pura Ciapus!

[Travel Report]

“Jam 11 kita ke Pura Ciapus. Kamu siap-siap ya”

 Sederet pesan Whatsapp dari si mas di atas ngebuat aku langsung membelalak seketika. Ha? Pura? Pura banget nih? Aku membatin melihat pesan itu. Gak nyangka si mas berminat nyulik aku ke Pura terbesar kedua se Indonesia, Pura Jagatkarta. Nama benernya Pura Jagatkarta bukan pura Ciapus. Note yak. Awalnya aku juga salah kok hahaha. Pura ini letaknya di kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor (Wikipedia yang bilang). Aku emang udah penasaran sama tempat ini dari lama. Tapi masih sebatas di draft Explore Bogor. Pas si mas tanpa angin apapun ngajak aku, aku langsung excited banget!

So here is our another one day trip 😀

Berhubung si mas gerah banget liat tulisan aku yang kebanyakan prolog, aku jadi langsung skip ke inti aja yak. Biar kalian cepet dapet informasinya dan si mas tidak melayangkan protes bertubi-tubi setiap aku buat posting baru. Sekedar informasi, si mas gak suka baca blogku tapi hobinya melakukan protes T___T

Inti

  1. Waw ini prolog terpendek yang kamu buat! Aku jadi tertarik nih ndah kesana! Gimana si caranya?

Oke sejujurnya tempat ini susah untuk ditemukan karena G-Maps ku ngaco banget akibat kekurangan sinyal. So before heading there, make sure that you already have the maps location screenshot. Kecuali kamu udah pake simpat* yang sinyal luber-luber kalo di pulau jawa 😀

How to get here :

Karena dari Dramaga, si mas milih untuk lewat jalur Ciherang. Kalau dari kota kalian akan diarahkan untuk ambil jalur Batu Tulis lanjut Ciapus. Kayanya si haha *tidak akurat*. Oke dari Dramaga kalian arahkan kendaraan ke arah pertigaan Caringin. Selanjutnya belok kanan. Terus kalian lurus dan kira-kira 300 m dari pertigaan, kalian nemuin percabangan (?). kalian lurus ambil arah Ciherang. Kalo belok kanan kalian akan dibawa ke Cibeureum dan rumah dosenku. Sebenernya bisa lewat sana, tapi g-maps nyaranin via Ciherang. Jadi kalian lurus aja. Selang 300 m, ada belokan ke Ciherang. Kalian tetep lurus ya. Setelah lurus, kira-kira sekitar 5 km, akan ada perempatan, kalian tetep lurus. Dari perempatan pertama, sekitar 5 km ada pertigaan. Di pertigaan kalian ambil kanan. Dari kanan, nanti kalian liat percabangan jalan, kalian belok kiri. Kalo lurus balik ke dramaga. Selanjutnya kalian lurus dan kalo ketemu percabangan lagi, belok kiri. Kira-kira 500 m dari percabangan terakhir, kalian akan nemuin pertigaan besar dimana ada cabang ke curug nangka, dan hotel. Kalian ambil kiri. Jangan tergoda oleh pesona curug dan hotel. Dari situ kalian lurus dan sekitar 500 m kalian ambil kanan di belokan yang menunjukkan area pura jagatkarta. Kalian harus mengendarai kendaraan sekitar 1 km untuk sampai di pintu masuk Pura. Letaknya ada di kanan jalan.
Sebenernya ada 5 cara lebih kayanya untuk ke pura ini. Bisa dari Ciomas-Ciapus, bisa dari belokan yang deket BTM, bisa dari Ciherang, dari Cibeureum sebenernya bisa tapi aku ragu juga sama jalannya. Atau yang lebih aman kalian naik angkot dari BTM aja. Ada angkot yang langsung Ciapus. Tapi sebaiknya jangan pergi di hari sabtu kalo kalian dari kota. Karena daerah Ciapus itu objek wisata primadona yang rame banget.

WP_20150329_11_58_04_Pro

ambil lurus yang ke arah ciherang

WP_20150329_12_39_20_Pro

all time favorit, mount salak

WP_20150329_11_54_40_Pro

Pertigaan Caringin belok kiri ya hehe

  1. Sejujurnya aku gak paham penjelasan kamu, tapi baiklah akan kucoba. Kira-kira disana ada apa aja ndah?

Kalo kalian berharap disana mirip seperti candi Borobudur dimana kalian bisa selfie, photo untuk instagram, photo buat dapet jodoh, bahkan kalo jail bisa nulis-nulis bangunan pura, kalian memilih wisata yang salah. Pura ini khidmat dan tertib banget. Area untuk wisatawan pun dibatasi supaya tidak mengganggu umat yang sedang beribadah. Area untuk wisatawan hanya ada di bagian wing kanan pura dan di gapura pura (?) maksudnya di gerbang utama pura. Tidak diizinkan untuk masuk ke area dalam pura kecuali umat hindu. Jadi kalo kalian suka liat foto pura Jagatkarta di Instagram, ya hanya itu angle atau spot yang bisa diambil. Tapi bagus ko. Aku seneng liatnya. Meskipun gak bisa masuk tapi aku seneng aja liat bangunannya. Beberapa pengunjung ada yang kecewa sih, tapi kalo kata si mas “makanya kalo mau jalan-jalan baca review di Internet”. Yap I agree and tht’s why I made this blog mas!

WP_20150329_13_19_08_Pro

WP_20150329_13_12_56_Pro

WP_20150329_12_52_41_Pro

WP_20150329_12_59_49_Pro

Waktu aku kesana sama si mas, aku pergi dimana matahari sedang eksi-eksisnya. Panas banget. Sumpah. Kalo kalian suka ngeluh panas dan keringetan, kalian harus merasakan panasnya kaki di atas batu. Rasanya aku mau nikah aja sama si mas (lho?). Jadi  berhubung lantai pura terbuat dari batu dan semua pengunjung harus melepas alas kaki, pengunjung harus berjalan di atas batu yang sumpaah. Panas banget. Batu itu tidak memantulkan panas tapi justru menyerap panas. I still could feel how it feels. Aku ngerasa lagi atraksi debus at that time karena panas banget. Sumpah. Kalo gak percaya, coba jalan di Gladiator (untuk anak IPB) saat matahri sedang ngeksis di Bumi Dramaga.

WP_20150329_13_09_50_Pro

Uji nyali

  1. Ini kan tempat ibadah ndah, ada pesan-pesan gak buat kita yang hobi jalan? Biar kita tetep jadi pejalan sejati!

O iya benar. Karena ini tempat ibadah kalian harus menaati beberapa peraturan di pura ini. Aku udah foto beberapa peraturan yang bisa jadi referensi kalian.

WP_20150329_12_47_50_Pro

WP_20150329_12_49_13_Pro

 

Sebelum masuk ke area pura, kalian dipinjamkan selendang seperti di Borobudur untuk menghormati umat hindu disini. Di bagian peminjaman selendang, ada kotak untuk  memberikan uang seikhlasnya. Yaa itu tersera kalian aja. Aku gak tau berapa sebaiknya uang yang kalian berikan. Sepantasnya lah ya.

Epilog

Selesai dari pura, aku dan si mas keausan. Jadi deh kita nepi di warung pinggir jalan yang instagramable banget. Lebay deh. Sebenernya aku udah ngincer warung ini pas perjalan ke pura. Warung di atas bukit kecil gitu. View dari warung ini bagus. Kaya di instagram deh. Aku susah jelasin. Hijau-hijau misterius gitu. Preet. Di warung itu aku mesen the bo*ol satu dan es. Feels like heaven. Seger banget. Abis minum aku langsung minta foto-foto sama si mas biar kekinian. Hahaha dan si mas mengabulkan. Tumben tumbenan.

WP_20150329_13_54_54_Pro

Puas foto-foto dan dahaga sudah hilang, aku dan si mas berencana untuk sholat dan cari masjid pinggir jalan karena jam sudah menunjukkan pukul 2. Alhamdulillah ketemu masjid bagus di pinggir jalan, persis di depan perempatanaan yang penunjuk jalan pintu masuk pura. Kita langsung sholat disana. Habis sholat kita mutusin untuk pulang lewat jalur lain. Biar dapet pahala lebih (dikira sholat idul fitri kali). Hahaha just wanna explore bogor more. Jadi kita pulang lewat jalur Ciomas yang nembus Laladon. Aku tidak bisa menjelaskan jalurnya karena aku lupa. Setelah sampe Laladon, kita mutusin untuk makan di bebek Pak Gendut. Sebenernya ini ideku karena udah mau 4 tahun disini, tapi belum nyobain semua makanan Dramaga :p

WP_20150329_14_28_24_Pro

WP_20150329_14_16_10_Pro

WP_20150329_15_32_19_Pro

Thanks ya mas for this lovely journey!

WP_20150329_14_26_07_Pro

Iklan

One thought on “Pura Jagatkarta, bukan Pura Ciapus!

  1. Ping-balik: Menggeliatnya Bisnis Kuliner di Bumi Kampus IPB (Re : Dramaga) | Between Sweet and Sour

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s