Antar Kota Antar Provinsi : Wonosobo, Dieng, dan Banjarsari

[Travel Report]

Wonosobo?? Kemana mak? Wonosobo??

Pertama kali denger wacana si mama mau pergi ke Wonosobo buat nikahan si bang mega, aku langsung mikir keras. Pikiranku menjadi keras karena memikirkan satu hal, dimana letak wonosobo? Dimanaa? Jujur aja waktu si mama lontarin wacana itu, aku langsung geleng-geleng keras. Ya ampun. Itu dimana? How will we get there? Jauh banget. Dan dengan pertimbangan macem-macem (sebenernya yang dipertimbangkan cuma uang doing sih. Ya biar kesannya ga ngepas banget gitu keuangan keluargaku haha) akhirnya diputuskan kalo kita akan ke wonosobo dengan erti (Sejujurnya pengalaman pergi ke wonosobo ini membuatku jatuh hati sama ERTI lebih dalam :D). Dengan beribu pertimbangan *hiperbola* dipilihlah bang azis untuk menjadi driver kesana. Bener deh, waktu itu aku mau nolak ikut. Tapi mengingat wonosobo yang aku ga tau letak pastinya, dan dengan pertimbangan tingkat nyasar tinggi, aku putuskan untuk bolos dan ikut! Aku ingin si mama sampe tujuan dengan tepat dan selamat *anak soleha ceritanya* *promosi*. Seingetku, waktu itu juga si mas lagi study tour ke jogja. Jadi biar weekendku bernilai lebih dan gak garing amat, kuputuskan untuk ikut! Sekalian pamer juga ke si mas hihihihi *tawa tuyul*

1. Akhirnya, Indah the explorer sampe kesana lewat jalan apa? Berikan keterangan!

Jalan via jalur selatan aku pilih. Mengapa? Karena waktu itu ada desas desus jalur pantura sedang (selamanya) (selalu) diperbaiki jembatannya. Jadi ayahku tidak mau ambil resiko. Dengan informasi tenang wonosobo yang minim, mulai dari tol Jakarta Cikampek aku udah nyalain here maps untuk ubek ubek dimana letak wonosobo itu. Karena kecilnya kapasitasku membaca peta (hampir semua wanita mengalami hal ini), aku membutuhkan waktu setengah jam untuk bener-bener paham. Abis itu aku langsung transfer ilmu ke supirku. Dengan keluhan ibuku, ketakutan ibuku, emosi ayahku, gak pahamnya supirku dan keteguhan hatiku *preeet*akhirnya aku dapat menemukan lokasi tempat mba ulinuha tinggal, Wonosobo. (indonesia :Hutan tempat bermain). Aku sejujurnya sangat bersyukur ikut dengan mereka karena kalau tidak, bisa dipastikan mereka akan nyasar karena waktu tempuh yang lama dan kekurang pengalaman mereka terhadap daerah Jawa Tengah.

Kebanggaanku. Teman Perjalanan. Dia kuat, lincah, irit, dan nyaman. Kalian kalo beli mobil, ini aja. Recommended!

Kebanggaanku. Teman Perjalanan. Dia kuat, lincah, irit, dan nyaman. Kalian kalo beli mobil, ini aja. Recommended!

Oke aku rangkum ya how to get Wonosobo :

Dari jalur selatan kaya biasa. Banjar ambil lurus, belok kanan kan pangandaran (kampungku). Lurus aja sampe ketemu majenang, lumbir, terus sampe ketemu perempatan WANGON. Dari perempatan wangon lurus aja. Kalo belok kiri ke ajibarang, kalo belok kanan ke Cilacap. Nah abis dari situ, kita akan nemu pecahan jalan. Kiri ke purwokerto, kanan ke Yogyakarta. Ambil kiri. Kita lewat purwokerto. Abis itu tinggal ikutin petunuk jalan aja untuk ke Purwokerto. Nah kira kira udah mau masuk purwokerto, kamu belok kanan ketika menemukan tulisan BANYUMAS. Jangan masuk purwokerto kota. Belok kanan itu udah jalur pintas. Kata keluarga mba Ulinuha juga begitu. Pemilihan belok kanan sangat tepat. Abis belok kanan kalian lurus aja, ikutin petunjuk jalan yang ada tulisan BANJARNEGARA. Dari banjarnegara tinggal lurus aja ikutin petunjuk jalan ke Wonosobo dan kalian akan bertemu WONOSOBO.

Secara singkat patokannya : Jakarta-Banjar-Wangon-Purwokerto-Banyumas-Banjarnegara-Wonosobo. Yaa kurasa aplikai g-maps kalian bias lebih teliti dan akurat dari penjelasanku 😀

Pom bensin di Cileunyi. Saranku, berhenti disini karena nanggung kalo berhenti di nagrek. Jadi bisa lagsung Tasik

Pom bensin di Cileunyi. Saranku, berhenti disini karena nanggung kalo berhenti di nagrek. Jadi bisa lagsung Tasik

Mampir kesini! Ayam gorengnya enak. Ada di daerah Lumbir. Jadi untuk yang mabokan, kusarankan makan dulu disini

Mampir kesini! Ayam gorengnya enak. Ada di daerah Lumbir. Jadi untuk yang mabokan, kusarankan makan dulu disini

Sebenernya wonosobo itu deket dieng. Dan aku pernah ke dieng pas aku masih dibolehin field trip. Jaman sma haha. Jujur wonosono sedikit merepotkan menurutku. Mengapa? Karena wonosobo di tengah-tengah. Kalo kalian lewat pantura, kalian harus ambil jalur semarang ke arah tengah untuk ke wonosobo. Masih agak jauh juga dari semarang. Kalo naik kereta aku kurang recommend. Karena ga ada kereta langsung Jakarta wonosobo. Jadi harus berhenti di purwokerto dan lanjut bis ke wonosobo. Sedikit merepotkan hehe apalagi kalo sama orang tua. Cape di jalan. Mending langsung naik bus Jakarta-Wonosobo. Biasanya yang punya trayek itu PO Sinar Jaya. Kalo dari Bandung, Budiman buka trayek Bandung Wonosobo.

  1. Ceritakan tentang Wonosobo!

Wonosobo itu kota kabupaten. Seperti kota kabupaten pada umumnya. Kebetulan rumah mempelai tidak sampai wonosobo kota. Melainkan masih area kabupaten. Oke, kuceritakan tentang kondisi kabupaten dulu yak arena aku sampe di kabupaten dulu. Kebetulan rumah mba ulinuha gak terlalu jauh dari gerbang masuk kabupaten Wonosobo. Jadi habis memasuki kabupaten Wonosobo, kalian akan nemuin perempatan, lanjut belok kanan. Aku lupa sih nama persis lokasinya apa. Hahahaha

Kondisi kabupatennya masih dipenuhi kebun-kebun liar yang diisi pohon salak dan pohon penghasil kayu. Waktu itu, sepanjang jalan dari Banjarnegara-Wonosobo, banyak pedagang yang menjajakan Salak fresh from the garden. Gak berhenti sih sayangnya. Tapi tanahnya kelihatan subur. Baguus banget. Masih belum terjamah. Serbuan alfa dan indo dengan akhiran maret juga belum banyak.

Sepanjang jalan, masih banyak hutan/kebun. Aku sukaaa. Hijau banget. Parah.

Sepanjang jalan, masih banyak hutan/kebun. Aku sukaaa. Hijau banget. Parah.

Kayu hasil hutan. entah legal atau enggaa. tapi kecee

Kayu hasil hutan. entah legal atau enggaa. tapi kecee

Aku menikmati kabupaten ini. Apalagi pas mau ke rumah mba Ulinuha. Rumah mba ulinuha lebih seru. Ada di bawah jalan gitu. Eitss tapi gak kaya di Jakarta yang kalo rumah dibawah jalan itu rumah yang maaf agak kumuh dan gak layak huni. Rumah mba ulinuha dibawah jalan tapi masih bagus. Jalanan menuju rumahnya juga berliku dan kereeen banget. Hanya 1 meter dari juraang. Jejeran pepohonan pinus menemani perjalanan aku. Sumpah kalo bukan supir professional dengan jam terbang tinggi gak bisa ngalahin medan ini. Kereen. Nih aku liatin foto-fotonya.

See? Jalanannya miring. Tapi aku gak paham berapa derajat.

See? Jalanannya miring. Tapi aku gak paham berapa derajat. Sampingnya langsung jurang. Seraam

Lebar Jalannya cuma segini

Lebar Jalannya cuma segini

Pinus. Favoritekuuuuu.

Pinus. Favoritekuuuuu. Ini masih apa yang disuguhi daerah rumah mba Ulinuha

Aku nyesel cuma bisa foto dari mobil :(

Aku nyesel cuma bisa foto dari mobil 😦

Nah ini diaa rumah mba Ulinuha dan tempat akad nikahnyaa

Rumah mba Ulinuha. sederhana dan nyaman. Aku betah disini. Udaranya itu lho. Juwara

Rumah mba Ulinuha. sederhana dan nyaman. Aku betah disini. Udaranya itu lho. Juwara

WP_20131018_020

Masjid tempat dilangsungkannya pernikahan.

Masjid tempat dilangsungkannya pernikahan.

Atap mesjidnya. Kalian tau kan. ketika akad nikah dilaksanakan, katanya ya malaikat ikut menyaksikan di langit-langit. Ini dia langit-langitnya.

Atap mesjidnya. Kalian tau kan. ketika akad nikah dilaksanakan, katanya ya malaikat ikut menyaksikan di langit-langit. Ini dia langit-langitnya.

Jadi abis akad nikah, bang mega baru dibawa ke rumah mba Ulinuha untuk ketemu mba Ulinuha. Romantis banget :”””)

Ini pas mba Ulinuha ketemu bang Rio. khidmat banget

Ini pas mba Ulinuha ketemu bang Mega. khidmat banget

Their first kiss. Huaaa ngeliatnya sedih. Dalem banget momennya

Their first kiss. Huaaa ngeliatnya sedih. Dalem banget momennya

Kalo kota wonosobo ya seperti kota. Sepenglihatanku ya. Aku gak menghabiskan waktu lama disana. Ada alun-alun wonosobo, yang kayanya suka dipake FTV. Ada mall kecil gitu, semacam pusat perbelanjaan dan yaa seperti kota di luar jabodetabek kebanyakan. Tapi, sebenernya aku suka kota ini. Kecil dan udaranya masih laik untuk dikonsumsi. Aku gak ngambil banyak gambar sayangnya di kota ini. Karena aku meluangkan waktu dengan bujuk rayu rindu untuk ke DIENG 😀

Penunjuk jalannya

Penunjuk jalannya

  1. Ayo Kita ke DIENG !

Dengan bujuk rayu manis manja aku membujuk ibuku untuk pergi ke DIENG! Come on mom let’s go to Dieng. Cuma sejam doing mak. Nanggung udah sampe sini. Setelah dibombardir rengekanku, ibuku menyetujui. Let’s go to Dieng. Wonosobo-Dieng itu ibarat Bogor-Puncak. Gak terlalu jauh. Jadi, dari kabupaten Wonosobo, kamu harus mengarahkan kendaraan ke pusat kota Wonosobo. Dari pusat kota Wonosobo, Dieng itu ibarat tetangga. Gak jauh.

Sepanjang jalan dari Wonosobo-Dieng, kamu akan disuguhi ‘KeMahaDahsyatan Tuhan dalam Merancang Semesta’. Kalian akan melihat pemandangan yang lebih Indah dari batu akik jenis Emerald, yaitu barisan gunung yang tidak kukenal namanya (sepertiiny Sindoro atau Sumbing), miringnya jalanan yang membuat kalian harus meliukkan badan untuk mengikuti kontur jalan, lahan-lahan pertanian yang tertata rapi di dasar jalanan, udara yang masih sangat perawan-jauh dari dosa-dosa jalanan *cieh* dan barisan pepohonan yang berlari mengikuti kendaraan kalian. Subhanalloh. Aku tidak bisa berhenti berdecak  kagum. Aku terlalu menikmati pemandangan yang Tuhan suguhi untukku. Aku tidak banyak mengambil gambar karena menurutku momen itu terlalu berharga untuk dilewati dalam gambar 2 dimensi tak bernyawa. Jadi hanya beberapa foto yang dapat menangkap ‘KeMahaDahsyatan Tuhan dalam Merancang Semesta’.

Ini pemandangan yang buat aku bersyukur banget bisa melihat :'))

Ini pemandangan yang buat aku bersyukur banget bisa melihat :’)) Maaf fotonya gak bagus. dari mobil ngambilnya 😦

Spot pertanian

Spot pertanian

Selfieku. Hahaha semoga aku termasuk 'KeMahaDahsyatan Tuhan dalam Merancang Manusia' ;)

Selfieku. Hahaha semoga aku termasuk ‘KeMahaDahsyatan Tuhan dalam Merancang Manusia’ 😉

Setelah melihat ‘KeMahaDahsyatan Tuhan dalam Merancang Semesta’, akhirnya aku sampai di Dieng. Dieng plateu Area. Terdapat gapura yang menandakan kamu telah sampai di tempat para dewa.aku sayangnya tidak mengambil gambar itu L Overall, dalam skala 1-10, Dieng menurutku 8.9. dieng menyuguhkan keindahan alam dalam balutan mistis yang tidak terelakkan. Ada kekuatan yang tertidur disana. Menunggu untuk dibangunkan. Ada kenyamanan disana. Sangat memabukkan. Aku menyukai Dieng. Ini kunjungan keduaku, dan aku tetap menyukai Dieng. Untuk segala kecanggihan alamnya. Untuk segala ketidakbiasaan arsitekturnya. (huaaaaww aku gak nyangka penjelasanku bisa 11-12 sama penjelasan kekinian tentang sebuah kota :P)

Di Dieng, aku hanya mengunjungi 3 tempat yaitu Telaga Warna, Kawasan Candi, dan Kawah Sikidang. Aku pernah mengunjunginya, tapi aku rindu untuk mengunjunginya kembali. Ketika aku mengetik sekarang, aku pun tetap merindukan Dieng sesederhana Dieng menyambutku dengan segala kerumitan arsitektur alamnya. Ketiga objek wisata favorit itu pun sudah cukup untukku mengembalikan ingatan tentang Dieng. Sudah cukup memberi penyegaran tentang rinduku pada Dieng. Biarkan foto-fotoku yang berbicara tentang Dieng ya.

Telaga Warna. Tempat pertama yang dikunjungi

Telaga Warna. Tempat pertama yang dikunjungi

See the difference?

See the difference?

My lovely travel mate :P

My lovely travel mate 😛

Tempat kedua! Kawah sikidang

Tempat kedua! Kawah sikidang

See? Subhanallah.... Take care of yourself too!

See? Subhanallah…. Take care of yourself too!

Me with mom. Duh kita formal banget ya pakaiannya. Abis dari nikahan soalnya haha kurang kece

Me with mom. Duh kita formal banget ya pakaiannya. Abis dari nikahan soalnya haha kurang kece

Tempat terakhir :Candi Dieng

Tempat terakhir :Candi Dieng

Mom capturing the moment

Mom capturing the moment

Father.

Father.

One of the temple. i like temple so much!

One of the temple. i like temple so much!

Setelah mengunjungi candi, kita memutuskan untuk ke lokasi setelah makan di warung deket lokasi candi. Makan di Dieng gak mahal kok. Gak seperti beberapa tempat wisata lain. Habis dari Dieng lokasi selanjutnya adalah Banjarsari. kampung ayahku. kebetulan sekalian lewat selatan. Perjalanan pulang lebih nyantai karena medannya udah diketahui. Tapi supirku eksperimen dengan ambil jalan ke Buntu. Jadi dari Banyumas kita belok kiri dan nembus-nembus di perempatan Buntu yang lurus Cilacap, kanan Wangon, kiri Yogya. Waah Jateng masih jadi isteri buatku.

Maaf kalo fotoku masih belum bagus. Waktu itu aku belum menjadi penggemar instagrammer yang jago foto. Jadi fotonya masih begini. sekarang pun masih belum jago. Hahahaha intinya, aku hanya ingin berbagi.

Perjalanan Antar Kota Antar Provinsiku sangat berharga menurutku. Terutama ketika aku menghadiri prosesi pernikahan bang mega dan mba ulinuha. Disana, aku belajar banget tentang pernikahan. Betapa sederhananya pernikahan mereka dan hebatnya momen yang tercipta. Tidak ada riasan mewah dari perias. Tidak ada baju kebaya rumit karya perancang. Tidak banyak makanan kekinian yang instagramable. Namun, sekali kamu ada disana, air matamu akan menetes melihat betapa sakralnya pernikahan itu. Untuk kali pertama, aku menangis melihat akad nikah dua insan. Aku tidak tau mengapa. Mba ulinuha dan bang rio menangis ketika meminta restu. Ucapan mereka tidak dipandu MC yang seperti jaman sekarang lakukan. Kata-kata dari bibir mereka terdengar sederhana, tapi itu amat menyentuh perasaanku. Keluarga mereka datang dan melingkari permintaan restu itu.

Aku amat sangat menginginkan pernikahan seperti itu.

Saat itu aku berfikir bahwa keromantisan paling abadi adalah ketika kalian menyelam di dalam kesederhanaan dan melepaskan iming gengsi, iming duniawi, iming eksistensi. Disana aku menyadari, bahwa pernikahan ada bukan untuk menjadi momen yang membiasakan dan eksistensi. Tapi ada sebagai momen pengikatan kita dengan Tuhan lewat orang yang kita pilih. Momen sakral yang sebaiknya dilakukan dengan segenap hati. Dengan kemurnian diri. Dengan penghambaan sepenuhnya terhadap Ilahi. Aku menginginkan pernikahanku seperti itu. Aku ingin menikah di rumah sederhanaku. Disaksikan keluarga terdekatku dan beberapa teman. Aku ingin suamiku (yang masih amat sangat kuharapkan adalah si mas) mengucap ijab dengan lantang disaksikan semesta di rumah sederhanaku. Tidak perlu di tempat mewah. Tidak perlu dimana-mana. Cukup di rumah 90 m2 ku. Aku ingin suamiku juga yang membaca quran. Tidak perlu orang yang bisa melakukan murratal. Cukup seorang laki-laki yang memilih aku untuk menghebatkannya, memilih aku sebagai ibu dari anak-anaknya, memilih aku untuk pendekatan diri dengan Illahi. Dan aku ingin meminta restu secara tulus terhadap ibuku. Tanpa harus ada MC. Tanpa harus ada kata-kata puitis dari internet atau ucapan menyentuh hati yang diucapkan pengantin pada umunya. Cukup ucapan sederhana dari hatiku dan suamiku untuk minta restu terhadap orang tuaku dan orang tua suamiku. Sesederhana itu, aku ingin pernikahanku dilangsungkan. Untuk resepsi, aku sudah memiliki konsep, tapi aku ingin merahasiakannya. Biar menjadi kejutan untuk pembaca setiaku hahaha.

Momen  paling mengharukan. Saat mba Ulinuha meminta restu sama ibunya. I was crying that moment :')

Momen paling mengharukan. Saat mba Ulinuha meminta restu sama ibunya. I was crying that moment :’) Abaikan tab di samping foto ini -__-

Sejujurnya aku kurang menyukai pernikahan yang terlampau mewah dan di gedung. Pernikahan di gedung dikejar-kejar waktu resepsi. Momen akad nikah seringkali lewat saja. Aku seringkali merasakan momen akad nikah yang hanya menjadi momen. Beda ketika aku menghadiri acara pernikahan mba Ulinuha. Suasananya amat sangat khidmat. Sendu. Benar-benar membuatku berfikir bahwa pernikahan buakan hal main-main. Bahwa ada ikatan kuat dengan Tuhan ketika kita memilih untuk menikah. Aku tidak menyalahi paham banyak orang yang selalu bilang bahwa mereka ingin pernikahan mereka selalu dikenang orang dan pernikahan itu hanya dilangsungkan sekali seumur hidup sehingga mereka memutuskan untuk melakukan pernikahan semewah apapun yang dapat mereka berikan. Makanan enak, baju bagus, gedung mewah, dan segala macam hal. itu pilihan masing-masing. Aku tidak ingin mencampuri urusan itu. Aku hanya ingin memberikan persepsiku tentang pernikahan.

WP_20131018_035WP_20131018_030Camera360_2013_10_18_091939Camera360_2013_10_18_091954WP_20131018_021WP_20131018_007WP_20131018_005WP_20131017_014WP_20131018_002Camera360_2013_10_18_084953

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s